Minggu, 30 Juni 2013

TRADISI MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA AKSARA


Masyarakat indonesia  mulai mengenal tulisan pada sat berkembangnya pengaruh Hindu – Budha di Indonesia. Hal tersebut di buktikan dengan di temukannya tulisan berhuruf pallawa dan tulisan berbahasa sansekerta. Sama halnya dengan pada masa praaksara, pewarisan tradisi tertulis merupakan bentuk kesadaran.sejarah. mereka memandang bahwa masalalu perlu diingat, dicatat, dan di wariskan kepada generasi berikutnya.
1.      Tradisi Sejarah dalam Bentuk Rekaman Tertulis
Bentuk rekaman tertulis sering disebut dengan naskah. Naskah – naskah di Indonesia pada umumnya menggunakan bahasa dearah asal naskah itu ditulis, seperti bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Melayu, Aceh, Minang dan sebagainya. Naskah kuno merupakan sumber informasi kebudayaan daerah pada masa lampau. Di dalamnya mengandung ide – ide, gagasa, dan berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan. Naskah juga mengandung antara lain ajaran – ajaran moral, filsafat, dan keagamaan. Bentuk lain rekaman tertulis yaitu prasasti, kitab, dokumen, dan lain sebgainya.
a.       Prasasti adalah tulisan yang terdapat pada sebuah batu yang di buat atas perintah raja. Tujuannya adalah mengabadikan sebuah peristiwa penting yang di alami oleh seorang raja atau sebuah kerajaan. Prasasti tertua yang di temukan di Indonesia adalah Prasasti Yupa yang berisi tentang upacara penghormatan terhadap para pendahulu dan pemberian hadiah kepada para pendeta atau kaum brahmana yang memimpin upacara tersebut. Prasasti ini berisi tentang raja – raja yang memerintah di kerajaan Kutai.
b.      Kitab adalah tulisan para pujangga kerajaan yang dapat di jadikan petunjuk untuk menyingkapkan suatu peristiwa sejarah. Namun, tulisan – tulisan para pujangga tersebut tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan sehingga sering kali tidak netral. Hal ini di karenakan isi kitab tidak lebih dari sekedar mengagung – agungkan seorang raja yang sedang berkuasa.
c.       Dokumen adalah surat berharga yang tertulis atau tercetak yang dapat di pakai sebagi bukti atau keterangan .
2.      Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia
a.       Penulisan Sejarah - Hindu Budha  dan Islam
Penulisan sejarah pada zaman ini berpusat pada masalah – masalah pemerintahan dari raja – raja yang berkuasa. Penulisanyya bersifat istana sentris, yaitu berpusat pada keinginan dan kepentingan raja. Penulisan yang penting pada masa Hindu – Budha lebih banyak pada batu – batu besar yang di kenal dengan nama prasasti. Tujuannya  adalah agar generasi penerus  dapat mengetahui bahwa adad suatu peristwa penting yang terjadi dalam suatu kerajaan pada saat seorang raja memerintah.
Penulisan suatu peristiwa yang terjadi pada masa kekuasaan raja – raja islam ditulis dalam kitab – kitab. Sebagaimana pada masa hindu – Budha, penulisannya mengikuti petunjuk raja. Selainsebagian besar berisi tentang masalah politik, kitab – kitab pada masa kerajaan islam berisi pula tentang kehidupan masyarakatnya dalam bidang lain seperti keagamaan ( tentang ajaran – ajaran agama islam), sosial, dan ekonomi.
b.      Penulisan sejarah  masa colonial
Pada zaman kekuasaan bangsa – bangsa barat ( eropa) di Indonesia, penulisan peristiwa sejarah lebih bertujuan untuk memperkokoh kekuasaan di Indonesia. Selain itu, urusan mereka lebih merupakan sarana propaganda untuk kepentingan mereka sekaligus untuk mengendurkan semangat perlawanan.
c.       Penulisan sejarah masa pergerakan nasional Indonesia
Pada zaman pergerakan nasional Indonesia, tulisan – tulisan yang dibuat berperan dalam membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Denagn tulisan – tulisan ini, rakyat Indonesia menyadari dirinya sebagai bangsa tertindas. Perasaan ketertindasan ini membangkitkan semangat perjuangan untuk membebaskan diri.
d.      Penulisan sejarah masa Indonesia merdeka
Penulisan sejarah masa Indonesia merdeka berorientasi pada masa depan bangsa dan Negara Indonesia yang telah berhasil di Proklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Penulisan sejarah juga bertujuan agar pengalaman buruk yang dialami oleh bangsa Indonesia di masa lampau tidak terulang lagi di kemudian hari.
D. Melacak Jejak Sejarah Indonesia Melalui Folklore
Berdasarkan asal katanya, folklore berasal dari kata yaitu, folk dan lore . kata folk dapat diartikan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri – ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok – kelompok lainnya. Kata lore diartikan sebagai tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun – temurun, baik secara lisan maupun melalui suatu contoh yang disertai dengan isyarat atau alat bantu pengingat. Jadi dapat disimpulkan bahwa folklore adalah adat – istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun – temurun dan tidak di bukukan. Adapun ciri – ciri folklore adalah sebagai berikut,
1.      Diwarisakn kepada generasi muda secara lisan
2.      Bersifat tradisional dan relatif tetap
3.      Bersifat anonim
4.      Memiliki bentuk yang sama
5.      Menjadi milik bersama masyarakat
6.      Ada dalam versi berbeda – beda
7.      Mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif
8.      Pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum, dan
9.      Bersifat polos dan lugu sehingga sering kali kelihatan kasar dan terlalu spontan.
Folklore dibagi menjadi tiga yaitu folklore lisan, folklore sebagai lisan, dan non lisan.
1.      Folklore
a.       Folklore lisan
Folklore lisan adalah folklore yang diciptakan, disebar luaskan, dan diwariskan secara lisan, seperti puisi rakyat, dan cerita rakyat.
1)      Puisi rakyat adalah sastra yang bahasa terikat oleh irama, ritme, matra serta penyusunan lirik dan baik. Terdapat bermacam-macam puisi, seperti puisi bebas, puisi berpola, dan puisi baru.
2)      Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dipakai sebagai sarana pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia terdapat banyak sekali bahasa rakyat, misalnya bahasa batak, bahasa jawa, dan bahasa dayak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar