Minggu, 30 Juni 2013

CANDI BUDHA

Percandian Buddha

a.Candi Klasan dan Sari
 Didirikan oleh penangkaran tahun 778 M.Pernah ditemukan genta [lonceng] yang sekarang disimpan dimuseum untuk asrama sonobudoyo,merupakan candi tua yang kakinya tanpa hiasan.Dalam Prasasti Kalasan menyebut adanya biara,kiranya Candi Sari sebab candi ini bertingkat,cocok untuk asramah.
 
b.Candi Banyunibo

c.Candi Sojiwan
 Untuk menghormati Awalokiteswara dan ada relief Jataka

d. Kompleks Ratu Boko

e.Candi Plaosan Llor
 Didirikan oleh pikatan
f.Candi Borobudur
Merupakan candi dari Dinasti Syailendrapada abad 8 M dengan tinggi bangunan 42 m dan lebar dasar 123 m.Borobudur selain sebagai tempat suci agama Buddha juga sebagai monumen kebudayaan bangsa Indonesia.Penggalian Borobudur dilakukan pada masa pemerintahan reffles [inggris] dengan memerintahkan H.C.Cornelius.pada tahun 1907-1911 diadakan restorasi Borobudur  yang dilakukan oleh Ir.Van Erp [belanda].Masyarakat dunia dibawah UNESCO bekerja sama menyelamatkan Borobudur sejak  10 Agustus 1973.
-Pada kaki candi [kamadatu] terdapat relief karmawibhangga  yang menggambarkan hukum sebab-akibat.Bagian kaki candi disebut kamadatu,artinya alam kehidupan masih dikuasai oleh nafsu rendah.Manusia belum bias melepaskan nafsu jahat dan buruk.
-Bagian badan candi [rupadatu] artinya kehidupan manusia sudah menggunakan keinginan luhur tetap masih dengan sifat kemanusiaannya.Terdiri dari 4 lorong penuh hiasan relief yaitu riwayat perjalanan hidup Sidharta Gautama dari lahir sampai menjadi Sang Buddha.
-Bagian atas [arupadatu]artinya kehidupan manusia yang sudah meninggalkan  sifat keduniawian,terdiri dari 72 stupa kecil dan stupa besar.
g.Candi Pawon
Termasuk rangkaian Borobudur,pawon,mendut.Kata Pawon artinya tempat abu maka diduga candi ini tempat makam.Menurut Casparis sebagai tempat makam Raja Indra.Candi ini di buat  pada masa Raja Pramodyawardani.reliefnya kuwera [dewa kekayaan]

h.Candi Mendut
Dibangun oleh Raja Indra kurang lebih sekitar tahun 810 M.didalam ruang terdapat 3 patung Buddha,yaitu patung Buddha Cakyawuni yang diapit Awalokiteswara dan Wajrapani.Dibagian luar candi ada relief.Disebelah utara terlukis Dewi Tara sebagai sakti Buddha.Sebelah timur adalah Awalokiteswara dan selatan adalah  Manjucri.Pada dinding tangga naik terdapat relief cerita jakarta
 

KOMPLEK CANDI HINDU DI JAWA TENGAH

1.      Candi Gunung Wukir
Pada candi induknya terdapat lingga dan yoni sebagai kekuatan magis kerajaan Mataram. Di muka candi terdapat candi yang didirikan  Sanjaya karena berhubungan dengan Prasasti Canggal tahun 732 M. candi ini sekarang telah rusak, tinggal reruntuhan.
2.      Kompleks Candi Dieng
Didirikan oleh Wangsa sanjaya waktu terdesak Wangsa Syailendra. Nama candi seperti nama wayang, yaitu: candi Nhima, Gatut Kaca, Punto Dewo, Sembodro, Srikandi, Arjuno, Semar, dan lain-lain. Candi di Dieng pada umumnya kecil dan hanya memiliki satu ruangan. Isi ruangan sudah kosong.
3.      Candi Selogriyo
Mungkin nama itu dari Ciwa grha artinya Candi Syiwa. Pada setiap sudut alas kaki candi didapatipeti yang berisi kepingan emas, perunggu akik, padi, jewawut, pala, cengkih, bunga, dan daun pisang sebagai pembungkus serta tulang.
4.      Candi Pringapus
Juga terdapatcandi di dalamnya.
5.      Candi Gedongsongo
Merupakan kompleks percandian dan menfhadap ke barat, kiranya didirikan oleh Dinasti Senjaya.
6.      Candi Perot dan Candi Argopuro
Candi Perot didirikan oleh Pikatan dan Candi Argopuro oleh Rakai Kayuwangi.
7.      Candi Ijo
Susunannya rebah ke belakang dan menghadap ke barat.  Jadi, bertope Jawa Timur, terdapat arca Agastya dan Ganeca yang besar.
8.      Candi Prambanan
Candi Prambanan merupakan kompleks percandian yang terdiri dari 240 buah dan merupakan percandian Negara. Kita mengetahui reruntuhan candi di Prambanan berkat catatan dari C.A. lion Tahun 1887 renovai mulaidilakukan oleh Yzerman,kemudian dilanjutkan oleh J. groeneman, Ir. Van Erp, De Han, dan Ir. Van Romondt.


MANFAAT PENINGGALAN SEJARAH

Manfaat Peninggalan Sejarah
1.    Sebagai bukti yang tidak dapat dibantah kebenarannya.
Misalnya kita akan membantah bahwa nenek moyang kita bukanlah bangsa yang bodoh. Bangsa Indonesia adalah keturunan bangsa yang mempunyai daya cipta yang mengagumkan. Kalau tidak ada buktinya, kita akan disanggah orang. Dengan peninggalan sejarah itu, kita dapat buktikan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh, seperti: Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang dibangun beberapa abad yang lalu, sampai sekarang masih dikagumi orang di seluruh dunia. Candi Borobudur dan Candi Prambanan dikagumi sebagai hasil ciptaan yang luar biasa. Bahkan Candi Borobudur termasuk salah satu keajaiban dunia, yang tidak semua bangsa memiliki bangunan yang ajaib.
Contoh lain bahwa peninggalan sejarah adalah bukti yang tidak dapat dibantah kebenarannya adalah kita menyatakan bahwa bangsa Indonesia benci kepada penjajahan. Hal ini pun dapat kita buktikan dengan peninggalan sejarah, antara lain: dengan pendirian benteng-benteng di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kaum penjajah selalu diganggu oleh perlawanan rakyat Indonesia, seperti:
a.    Benteng Victoria dan Benteng Duurstede di Maluku.
b.    Benteng Rotterdam di Ujung Pandang.
c.    Benteng Amsterdam di Manado.
d.   Benteng Speelwijk di Banten.
e.    Bénteng Vredenburg di Yogyakarta.
f.     Benteng Marlborough di Bengkulu dan lain-tam.
Jadi, benteng-benteng didirikan untuk alasan pertahanan dan keamanan merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia selalu menentang penjajahan. Hal ini makin jelas tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: “maka penjajahan diatas dunia harus dthapuskan....”
2.    Memberikan pelajaran yang sangat berguna bagi kita.
Misalnya bahwa kemerdekaan itu sungguh tak ternilai harganya. Sebagai bangsa yang pernah dijajah, bangsa Indonesia betul-betul menghargai kemerdekaan. Bangsa Indonesia sudah merasakan betapa pahitnya dijajah oleh bangsa lain. Sungguh hina hidup sebagai bangsa yang dijajah. Jadi, melalui peninggalan, baik yang berupa teks Proklamasi maupun bendera pusaka yang dijahit Ibu Fatmawati menunjukkan suatu pengorbanan dan perjuangan yang besar dalam meraih kemerdekaan.
3.    Memajukan pariwisata dan devisa negara.
Sekarang peninggalan-peninggalan sejarah di Indonesia dijadikan objek pariwisata untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang tak ternilai harganya. Khususnya wisatawan. mancanegara, peninggalan-peninggalan sejarah kita dapat meningkatkan penghasilan devisa negara. Devisa adalah alat-alat pembayaran luar negeri yang dibutuhkan oleh setiap negara.
Dengan demikian, peninggalan sejarah membuat kita Iebih memahami séjarah, memiliki harga din sebagai bangsa maupun memiliki kebanggaan nasional sebagai bangsa Indonesia di samping secara ekonomi mendatangkan pendapatan.
Bangunan Candi
Dan berbagai ragam jejak peninggalan zaman sejarah adalah candi, suatu bangunan yang merupakan wujud akulturasi budaya India dan Indonesia. Di India, candi disebut dewa grha artinya rumah dewa. Jadi, fungsi candi sebagai tempat untuk beribadat. Di Indonesia disebut candi dihubungkan dengan candika sebutan untuk Dewi Durga sebagai dewa maut. Candika grha adalah candi untuk Dewi Durga. Maka sering di Indonesia ada candi sebagai tempat makam yang di dalamnya dikubur pripih, yaitu bermacam-macam benda sebagai lambang rohnya yang sudah bersatu dengan dewa penitisnya. Tetapi ada juga candi yang hanya sebagai tempat beribadat seperti di India.
Bagian-bagian candi, terdiri dan:
1.    Kaki candi             : bentuknya persegi dan di tengahnya ada yang ditanam pripih.
2.    Tubuh candi           : terdiri atas sebuah bilik yang isinya arca perwujudan.
3.    Atap candi             : terdiri dan tiga tingkatan, bagian atas Iebih kecil daripada puncaknya, ada Iingga atau stupa.
Dalam gaya maupun ornamennya antara candi India dengan candi Indonesia banyak perbedaannya. Menurut FDK Bosch, dasar bangunan candi ialah buku cilpa castra, tetapi sudah diubah dan disesuaikan dengan keadaan di Jawa. Pembuat candi dan patung adalah orang Indonesia yang telah mendapat didikan di India, patung di Indonesia sering merupakan patung perwujudan seorang raja, terutama di Jawa Timur. Kelompok candi ada bermacam-macam, misalnya candi negara, candi desa, candi dan biara, dan lain-lain.
Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan di Jawa Timur
Banyak perbedaan antara candi tipe Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Perbedaan ini karena di Jawa Timur pengaruh India makin berkurang sedangkan kebudayaan asli makin berpengaruh. Perbedaan itu ialah:
Sudut Pandang
Di Jawa Tengah
Di Jawa Timur
a.
Arah hadap
-     Ke tinur menghadap India sebagai tempat suci.
-   Ke barat nenghadap matahari yang disebut srengenge dan Sang Hyang E (pengaruh asli).
b.
Patung-patungnya
-    merupakan gantaran dewa, bentuknya lemah gemulai, gayanya tribhangga terdiri dari kepala, badan, dan kaki tidak satu garis lurus, lingkaran sinar di belakang kepala (prabhamandalanya).
-  Lebih kaku, agak tegak, ditekankan sebagai perwujudan orang sudah meninggal, lingkaran sinar di belakang seluruh tubuh.

ZAMAN BATU

1.      Zaman Batu
a.       Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
1.      Kebudayaan Pacitan
Pada tahun 1935, Von Koenigswald mengumpulkan aIat-alat Pacitan dinamakan Budaya “komplek kapak perimbas”. Kemudian digolongkan menjadi kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, proto kapak genggam, alat serpih, batu intl dan aneka ragam alat-alat lain. Cini-cirinya: bentuk besar, masif, dan kasar pembuatannya. ku!it batu masih rnelekat, terutama pada bagian yang dipegang, tajamnya berliku-liku.
Movius menggolongkan budaya Pacitan ini rnenjadi 4 yaitu: kapak penimbas (chopper), kapak penetak (chopping tool), pahat genggam (handaxe), dan proto kapak genggam (proto had axe). Sedang Heekeren membagi menjadi 3 yaitu : jenis seterika, kura-kua, dan serut.
2.      Kebudayaan Ngandong
Di daerah Ngandong dan Sidonejo (dekat Ngawi) banyak ditemukan alat-alat dan tulang, tanduk menjangan, dan dun ikan pari. Alat-alatnya berupa belati, semacam alat penusuk yang berfungsi sebagai alat untuk mengorek ubi dan keladi dan dalam tanah kemudian mata tombak, sudip, pisau, alat-alat serpih yang menunjukkan bahwa alat tersebut berfungsi sebagai alat untuk berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan makanan.
b.      Zaman Batu Tengah (Mesolitikum)
Kebudayaan Mesolitikum bekasnya banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Jenisnya berupa:
1.      Kapak Sumatra(pebble culture) berbentuk lonjong, bulat, dan lancip.
2.      Tradisi serpih bilah (flakes culture).
Van Heekeren mengadakan penelitian di Karassa, Panameanga, Pattae membedakan menjadi 3 lapis kebudayaan:
a)      Toala I atau Toala Atas: berupa mata panah bersayap dan bergerigi, serut kerang dan gerabah.
b)      Toala II atau Toala Tengah: bilah, mata panah berpangkal bundar dan alat-alat mikrolit.
c)      Toala Ill atau Toala Bawah: serpih dan bilah yang agak besar di antaranya ada serpih berujung cekung dan serpih bergagang.
3.      Kjokken modinger atau gua-gua batu karang.
Berupa bukit yang berasal dan tumpukan sampah dapur yang berupa kulit kerang, banyak didapatkan di Langsa (Aceh) dan Medan.
4.      Pipisan berupa batu-batu penggiling beserta landasannya.
Pipisan ini rupanya tidak hanya untuk menggiling makanan, tetapi juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah yang dimaksudkan agar bertambah kekuatannya dan tambah tenaga hidupnya.
5.      Abris Sous Roche adalah gua yang dipakai sebagai tempat tinggal, ditemukan oleh Van Szein Callenfels di gua lawa (Ponorogo Madiun).
6.      Alat-alat tulang (bone culture) berupa serpih bilah sederhana, mata panah dan batu bersayap, alu, lesung batu, dan perhiasan dan kulit kerang, dikenaijuga pakaian dan kulit kayu.
c.       Zaman Batu Baru (Neolitikum)
1.      Kapak persegi dalam berbagai ukuran dan keperluan.
Yang besar disebut beliung atau pacul, sedang yang kecil disebut tarah. Berfungsi untuk mengerjakan kayu. Terbuat dan batu kalsedon. Bentuknya semua sama agak melengkung sedikit dan diberi tangkai yang diikatkan kepada tempat Iengkung. Banyak ditemukan di Jawa, Bali, Sumatra, Maluku, dan Sulawesi.
2.      Kapak Bahu.
Ditemukan di Minahasa.
3.      Kapak Lonjong. 
    Sering dinamakan Neolitikum Papua. Ukuran besar dinamakan Walzenbeil sedang yang kecil bernama Kleinbeil. Bentuknya lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebarpada bagian tajam. Bentuk yang kecil sebagai benda pusaka. Sampai sekarang tradisi ini masih terjadi di Irian.
                  d. Zaman Batu Besar (Megalitikum)
1)      Menhir  : Bentknya seperti tilang atau tugu yang terbuat dari batu tunggal. Menhir didirika  untuk upacara menghormat roh nenek moyang.Menhir ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Misalnya di Sumatra Selatan,Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.  
2)      Dolmen
Bentuknya seperti meja batu, fungsi Dolmen adalah sebagai tempat untuk meletakkan sesaji, tetapi ada juga Dolmen yang dibawahnya digunakan sebagai makam. Dolmen banyak ditemukan di daerah Jawa Timur, Terutama di Bondowoso
3)      Sarkofagus atau Keranda
Batu besar yang dinentuk seperti lesung dan diberitutup batu. Fungsinya sebagai peti mati. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali. Di sana sampai sekarang sarkofags masih dianggap keramat dan dianggap mengandung sesuatu kekuatan magis.
Gambar sarkofagus yang ditemukan di Tegalallang, Bali, Wadah dan Tutup dipisahkan
4)      Kubur Batu
Adalah tempat penguburan yang dinding, alas dan tutupnya terbuat dari kepingan (lempengan) batu lebar (papan batu). Kubur batu banyak ditemukan di Kuningan, Jawa Barat
5)      Waruga
Adalah kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat, biasanya dari batu utuh, dengan tutup berbentuk atap rumah.
6)       Punden Berundak
Bangunan dari batu yang disusun bertingkat-tingkat. Biasanya pada punden berundak-undak juga didirikan menhir. Fungsinya merupakan tempat pemujaan arwah nenek moyang. Bangunan ini ditemukan di Lebak Sibeduk, Banten Selatan.
7)        Arca
Arca megalit menggambarkan binatang atau manusia. Binatang yang digambarkan terutama gajah, harimau, kerbau, dan monyet. Arca megalit banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Lampung, dan Jawa Tengah